Framing Berita: Pengertian, Model Analisis, dan Contohnya

Apa itu framing berita, empat fungsi framing model Entman, empat struktur model Pan dan Kosicki, contoh judul dengan bingkai berbeda, dan artinya bagi humas.

Deretan bingkai foto kayu berisi sketsa di dinding putih sebuah galeri.

Framing berita adalah cara media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari sebuah peristiwa, sehingga pembaca diarahkan pada satu cara memahami masalah, penyebab, penilaian, dan jalan keluarnya. Dua media bisa memberitakan peristiwa yang sama dengan fakta yang sama, tetapi meninggalkan kesan yang sangat berbeda karena bingkainya berbeda.

Konsep ini lahir dari kajian komunikasi, tetapi sangat praktis bagi humas. Membaca framing membantu tim memahami mengapa sebuah isu terasa negatif meski sentimen per berita tampak netral, dan narasi apa yang sebenarnya sedang terbentuk di publik.

Pengertian framing menurut para ahli

Robert M. Entman, dalam artikel Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm di Journal of Communication (1993), menjelaskan bahwa membingkai berarti memilih beberapa aspek realitas dan membuatnya lebih menonjol dalam teks. Penonjolan itu mendorong empat hal: definisi masalah, interpretasi penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penanganan.

Di Indonesia, analisis framing banyak dipelajari melalui buku Analisis Framing karya Eriyanto, yang merangkum beberapa model, termasuk model Entman dan model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Kedua model inilah yang paling sering dipakai untuk membedah berita.

Empat fungsi framing model Entman

Fungsi

Pertanyaan yang dijawab berita

Contoh ilustrasi

Definisi masalah

Peristiwa ini dilihat sebagai masalah apa?

Kenaikan tarif disebut sebagai beban warga, bukan penyesuaian biaya

Diagnosis penyebab

Siapa atau apa penyebabnya?

Kemacetan disebut akibat perencanaan yang buruk, bukan lonjakan musim libur

Penilaian moral

Nilai apa yang dipakai untuk menilai?

Keterlambatan proyek dikaitkan dengan janji yang tidak ditepati

Rekomendasi penyelesaian

Apa jalan keluar yang ditawarkan?

Berita ditutup dengan desakan evaluasi pejabat, bukan perbaikan teknis

Contoh di atas bersifat ilustratif. Satu berita tidak selalu memuat keempat fungsi, tetapi berita dengan framing kuat biasanya memuat setidaknya dua.

Empat struktur framing model Pan dan Kosicki

Pan dan Kosicki (1993) membedah framing lewat struktur teks berita. Model ini cocok untuk membaca berita satu per satu secara rinci.

  • Sintaksis: susunan berita, mulai dari judul, teras (lead), kutipan narasumber, hingga penutup. Bagian yang diletakkan di judul dan paragraf pertama adalah yang paling ingin ditonjolkan.
  • Skrip: cara peristiwa diceritakan, mengikuti pola 5W+1H. Unsur yang ditekankan, misalnya "siapa" atau "mengapa", menunjukkan arah cerita.
  • Tematik: cara wartawan menyusun pendapat menjadi proposisi, misalnya hubungan sebab akibat antarparagraf.
  • Retoris: pilihan kata, istilah, metafora, foto, dan grafik yang memperkuat kesan tertentu.

Contoh framing berita

Misalkan sebuah pemerintah kota menutup sebagian jalan untuk perbaikan drainase. Berikut tiga judul ilustratif untuk peristiwa yang sama.

Judul ilustratif

Bingkai yang ditonjolkan

Perbaikan Drainase Dimulai, Kawasan Langganan Banjir Ditargetkan Bebas Genangan

Solusi dan manfaat jangka panjang

Jalan Ditutup Mendadak, Warga Keluhkan Macet Berjam-jam

Dampak langsung dan kurangnya sosialisasi

Proyek Drainase Rp40 Miliar Kembali Bongkar Jalan yang Sama

Efisiensi anggaran dan perencanaan

Ketiganya bisa sama-sama akurat. Perbedaannya ada pada aspek yang dipilih untuk ditonjolkan, narasumber yang dikutip, dan urutan informasi. Inilah yang dimaksud framing: bukan berbohong, melainkan memilih.

Framing, agenda setting, dan sentimen

Framing sering dikaitkan dengan teori agenda setting. Agenda setting menjelaskan bagaimana media menentukan isu apa yang dianggap penting. Framing menjelaskan bagaimana isu itu dipahami. Sebagian ahli menyebut framing sebagai bagian dari agenda setting tingkat kedua, yaitu penonjolan atribut sebuah isu.

Framing juga berbeda dari sentimen. Sentimen menilai nada sebuah berita terhadap subjek: positif, netral, atau negatif. Framing menilai cerita yang dibangun. Berita bernada netral yang terus-menerus membingkai sebuah program sebagai "boros anggaran" bisa lebih merusak reputasi daripada satu berita negatif yang berdiri sendiri.

Mengapa humas perlu membaca framing

Jumlah berita dan sentimen menjawab pertanyaan "seberapa ramai" dan "seberapa negatif". Framing menjawab pertanyaan yang lebih menentukan: "cerita apa yang sedang dipercaya publik". Beberapa manfaatnya:

  • Memahami narasi yang dominan. Dari ratusan berita, biasanya hanya dua atau tiga bingkai yang terus berulang. Mengenalinya membantu tim menentukan pesan yang perlu diperkuat atau diluruskan.
  • Memilih narasumber. Bingkai sering mengikuti siapa yang dikutip. Bila berita hanya mengutip pengamat yang kritis, ruang penjelasan dari pihak organisasi memang belum terisi.
  • Menulis siaran pers yang relevan. Siaran pers yang menjawab bingkai yang sedang berkembang lebih mungkin dikutip daripada siaran pers yang membahas hal lain.
  • Melaporkan ke pimpinan. Pimpinan lebih mudah memahami "isu ini dibingkai sebagai masalah perencanaan" daripada deretan angka sentimen.

Pada skala kecil, framing bisa dibaca manual. Pada ratusan atau ribuan berita per bulan, tim butuh bantuan untuk mengelompokkan isu dan narasi. Qola mengelompokkan berita online nasional dan daerah serta pernyataan pakar ke dalam isu, lalu merangkum narasi publik yang paling sering muncul, sehingga tim humas bisa fokus menafsirkan dan menyusun respons. Hasilnya dapat dibawa ke laporan untuk pimpinan. Lihat fitur Qola.

Foto sampul: Laura Cleffmann melalui Unsplash. Foto merupakan ilustrasi, bukan dokumentasi pelanggan Qola.

FAQ tentang framing berita

Apa itu framing dalam berita?

Framing adalah cara media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari sebuah peristiwa, sehingga pembaca diarahkan pada satu cara memahami masalah, penyebab, penilaian, dan penyelesaiannya.

Apakah framing sama dengan berita bohong?

Tidak. Berita dengan framing kuat bisa sepenuhnya akurat. Framing terjadi karena wartawan harus memilih fakta, narasumber, dan sudut pandang dari peristiwa yang kompleks. Berita bohong memuat informasi yang tidak benar.

Apa beda framing dan agenda setting?

Agenda setting menjelaskan bagaimana media memengaruhi isu apa yang dianggap penting oleh publik. Framing menjelaskan bagaimana isu itu dipahami. Agenda setting menjawab "apa yang dipikirkan", framing menjawab "bagaimana memikirkannya".

Model analisis framing apa yang paling sering dipakai?

Di Indonesia, model Robert Entman dan model Pan dan Kosicki paling sering dipakai, terutama dalam penelitian komunikasi. Model Entman fokus pada fungsi bingkai, sedangkan model Pan dan Kosicki fokus pada struktur teks berita.